FANFIC
Title : Special Gift
Author : Aii/Ella/Hikaru Raira
Rating : SU , semua umur lol~
Chapter : Oneshot
Band : ViViD, BORN
Pair : Ko-ki x Aii (Author) , LOL!
Disclaimer : ko-ki is mine~~ /kicked
Warning : ko-ki as my boyfriend~ lol . yang ga suka jangan nekat baca~
"Aii-chan!" Shin melambaikan tangannya tepat di depan hidungku, membuatku tersadar dari lamunanku.
"Ada apa?" tanyanya lagi, mungkin khawatir kali ya. Jelas saja, saat ini di depannya duduk seorang perempuan yang sejak 25 menit yang lalu hanya terdiam dengan tatapan kosong menatap cangkir teh yang ada didepannya, seperti sedang kesurupan.
"Aa~ Daijoubu~" jawabku sambil meneguk teh yang sudah aku diamkan sejak aku datang ke cafe ini.
"Ko-ki? ada masalah dengan ko-ki?" tanyanya dengan wajah serius.
"Ah, tidak ada apa-apa" jawabku sambil tertawa, tawa yang dipaksakan.
"Cerita saja, tidak apa-apa. Akan kudengarkan sampai kau bosan bebicara lagi" kata Shin sambil tersenyum, aku tidak tahu maksud dari senyumannya itu. Mencoba menggodaku? Padahal dia tahu aku sudah bersama ko-ki.
"Tidak ada apa-a.."
"Ayolah, aku tahu ada sesuatu. Tidak mungkin sekarang kau berada disini kalau tidak ada masalah" potong shin, dia memaksaku agar bercerita tentang masalahku.
"Hhh~ Baiklah, pertama aku mau bertanya dulu"
"Baiklah, akan kujawab"
"Ummm~ kemarin lusa, kalian latihan kan?"
"Kemarin lusa? sudah seminggu ini kita tidak latihan.. ada apa?"
"Ko-ki hari itu pergi seharian sampai-sampai membatalkan janji yang kami buat seminggu sebelumnya, dia bilang ada latihan sampai malam"
"He!? tidak-- sudah seminggu lebih kita tidak latihan, jadi dia berbohong?" tanya shin.
"Mendengar jawabanmu, sepertinya begitu. Aku tidak tahu dia kemana"
"Sudah tanya sama ko-ki langsung?"
"Sudah, tapi-- dia malah mengalihkan pembicaraan, akhir-akhir ini juga sepertinya dia menjauhiku"
"Kalau begitu putuslah dari ko-ki, denganku saja" tiba-tiba Shin melontarkan kata-kata yang membuatku kesal mendegarnya. aku kan sedang sedih begini, kenapa dia tega memanfaatkan situasi seperti ini untuk berbicara begitu.
"Aa~ aku pulang saja, tidak ada gunanya bicara denganmu" Aku berdiri dengan cepat, saat kulangkahkan kakiku untuk meninggalkan shin, tiba-tiba saja shin menarik tanganku.
"Aku antar ya" tawar shin.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri"
"Kau yakin?"
"Sudahlah tidak usah khawatir, apartemenku dekat dari sini"
"Yakin?"
"Sudahlah, lepaskan aku shin" aku menarik paksa tangaku, lalu pergi meninggalkan shin.
*~*~*~*~*~*
"Tega sekali dia bicara seperti itu, sudah kuduga.. percuma bicara dengan shin" ocehku dalam perjalanan pulang, sore ini cuaca memang mendung sudah sejak tadi pagi berawan mungkin sebentar lagi turun hujan. Benar saja! saat aku mampir ke toko kaset hujan turun dengan derasnya, aku terkurung di toko kaset.
Aku bertekad untuk menunggu hujan reda, tapi semakin di tunggu hujan justru semakin besar. Toko kaset pun ditutup, aku terpaksa menunggu di luar.
"Yang benar saja! kalau begini terus bisa sampai pagi aku ada disini" gumamku kesal, di tambah lagi aku tidak membawa handphone. Sungguh hari yang sial! aku jadi menyesal menolak tawaran shin tadi.
"Dingin.. Ko-ki kau dimana?" ucapku pelan sambil berjongkok di depan toko kaset, memeluk tubuhku sendiri agar mendapat kehangatan.
"Menyedihkan sekali, seorang perempuan menunggu di depan toko kaset sendirian, sementara pacarnya tidak diketahui keberadaannya dimana.. mungkin sedang bersenang-senang.... dengan perempuan lain" Tiba-tiba saja air mataku membasahi pipiku, sunggu ironis sekali ketika memikirkan hal itu.
*~*~*~*~*~*
Apa ini!? baunya enak sekali..
"Hmm~" aku mencoba membuka mataku, melihat ke sekelilingku. Aku ada di kamar seseorang!! Tapi, siapa?
"Dimana aku?" aku turun dari ranjang, lalu berjalan keluar kamar itu berharap menemukan sosok orang yang telah menolongku? menolong? apa itu kata yang tepat?
"Oh, kau sudah bangun" kata seseorang di belakangku ketika aku berusaha mendekati dapur.
"Ah~ siapa? ano~ terima kasih sudah menolongku" jawabku berterima kasih padanya yang sudah menolongku. Ya, kalau dia tidak macam-macam padaku, tapi~ sepertinya dia tidak melakukan hal yang buruk, bajuku masih lengkap.
"Aa~ aku ryoga, maaf.. kemarin saat aku melewati toko kaset bersama temanku, aku melihatmu di depan toko kaset itu.. lalu aku.."
"Tidak apa-apa, terima kasih" potongku.
"Mau makan dulu? aku baru masak, err~ sebenarnya aku hanya memasak mie, maklum aku tidak bisa memasak" katanya buru-buru mengambilkan sepiring mie untukku, sementara aku duduk di meja makannya sambil melihat gerakannya yang lucu saat menata mie diatas piring. Sepertinya dia memang jarang masuk dapur.
"Aa~ maaf, hanya ini yang aku punya di rumahku. Tadinya aku mau menyuruh temanku membawakan makanan.." ucapnya sambil menyodorkan sepiring mie dan secangkir teh hangat kepadaku.
"Tidak apa-apa, terima kasih" saat aku bersiap menyantap mie hasil buatannya, kulihat dia justru tidak makan. apa ini bungkus mie yang terakhir? aku jadi tidak enak kalau memakan mie ini sendiri.
"Ano, bisa ambil piring lagi" kataku.
"Ha!? buat apa?" tanyanya.
"Buatmu, kenapa tidak makan juga. aku tidak enak melihatnya"
"Ah tida apa-apa, aku bisa makan di luar dengan temanku"
"Tapi.."
"Sudahlah, makan saja.."
Orang yang baik, baik sekali. Dengan lahap aku menyantap sepiring mie itu, saat aku sedang makan tiba-tiba Ryoga mendapat telepon, aku tidak tahu dari siapa.
"Halo" jawabnya sambil mengangkat teleponnya.
"Sekarang!? ee~ chotto.. chotto..A.. halo.. Kifumi, halo"
"Ada apa?" tanyaku agak penasaran, dia keliatan panik sekali.
"Ano~ kau mau pulang sekarang?" tanya Ryoga.
"Ya, aku juga sudah selesai dengan makannya"
"Aa.. soal itu.."
...
"Dimana ini!??" teriakku begitu keluar dari apartemennya. Aku tidak mengenal lokasi aku sekarang.
"Aa.. maaf, apartemenku ini jauh dari toko kaset kemarin.. kalau ingin ke stasiun aku tidak bisa mengantar, temanku memintaku untuk cepat datang kerumahnya, kalau tidak aku bisa dibunuh" jelasnya dengan nada panik, mungkin dia merasa bersalah tidak bisa membawaku pulang.
"Lalu, bagaimana?"
"Ano~ bagaimana kau ikut aku ke rumah temanku, habis dari sana aku antar kau pulang"
"Tapi... ah, baiklah"
*~*~*~*~*~*
"Kau telat Ryoga, kemarin malam juga kau tidak datang kesini" oceh temannya begitu kami sampai di depan rumahnya.
"Gomen ne Kifumi~ soal itu.. kemarin.."
"Dia menolongku sampai tidak bisa datang, maaf ini semua karena aku" jawabku.
"Siapa dia?" tanya teman ryoga itu yang bernama kifumi.
"Ah.. dia.. siapa namamu?" tanya ryoga.
"Aii desu"
"Ah.. ya itulah namanya" ryoga memperkenalkanku kepada temannya, padahal dia baru tahu namaku saja barusan.
"Kita harus ke studio sekarang! yang lain sudah menunggu!"
"He--!? bagaimana dengan Aii-chan? Dia harus pulang.."
"Suruh pulang naik kereta saja"
"Dia tidak tahu daerah ini"
"Suruh ikut saja, pokonya harus datang sekarang!! kemarin kau tidak datang"
"Eh!?"
Ya begitulah percakapan mereka, sementara aku masih berdiri saja.. bingung apa yang harus kulakukan. Apa mereka akan menelantarkan aku di jalan? Sungguh ironis sekali.. Betapa bodohnya aku tidak menerima tawaran shin. Hhh~ lagi-lagi aku menyesali hal yang sudah terjadi.
"Ano, Aii-chan.. Kamu.."
"Baiklah aku ikut, asal jangan telantarkan aku di jalan" jawabku cepat, aku tidak peduli kalau ini memalukan, aku hanya tidak mau sendiri di tempat yang tidak aku kenal.
"Eee~ ah, baiklah.. kifumi dia ikut"
*~*~*~*~*~*
Begitu mobil yang di kendarai Kifumi berbelok ke sebuah gedung yang tak asing lagi bagiku. Ini.. ini gedung PSC, akhinya aku pulang? pulang? maksudku aku sudah tau lokasi ini. Tunggu dulu untuk apa Ryoga dan Kifumi kesini? apa mereka band dari label PSC? Kok aku tidak pernah melihat mereka.
Begitu Kifumi memarkirkan mobilnya, aku keluar dari mobilnya dengan wajah senang.
"Senang sekali, maaf ya.. kau jadi tidak bisa pulang sekarang" kata Ryoga menyesal.
"Iie~ daijoubu . Aku sudah pulang" jawabku dengan wajah senang.
"He!? rumahmu disini? di gedung PSC ini?"
"Aa~ bukan, hanya saja aku sering kesini sekedar mengantar atau bertemu pacarku" jawabku.
"Yang benar? siapa? kok aku tidak pernah melihatmu"
"Au juga tidak pernah melihatmu, kalau ternyata kau dari band di label ini"
"Hee-- aku vokalis BORN, pernah dengar kan?"
"BORN.. aku tau, temanku fans berat kalian"
"Oh iya, siapa pacarmu itu?"
"Itu.."
"Hei, kalian sedang apa? ayo cepat" teriak kifumi yang sudah jauh meninggalkanku dan ryoga di depan mobil.
*~*~*~*~*~*
Suasana ini, entah kenapa aku merindukannya. Tiba-tiba saja aku mencoba mencari Ko-ki, dimana dia? Apa hari ini datang ke studio?
"Ano.. aku tinggal disini ya, katanya kau sudah sering keisni jadi tidak masalah kan?" tanya ryoga.
"Ya~ tidak apa-apa.. sampai jumpa ryoga-san"
"jya~"
Nah!
Aku harus bagaimana? apa Ko-ki datang ke studio? tadi minggu ini tidak ada jadwal ke studio. Lebih baik aku pulang saja.
*~*~*~*~*~*
"Tadaimaa!" ucapku begitu memsuki apartemenku, sepi.. apartemenku sepi.. dengan cepat kuraih handphoneku mencoba melihat email yang masuk.
From : Shin-taan
tadi kau belum bayar teh yang kau beli, terpaksa aku yang membayarnya. =__=)
From : Shin-taan
Aku tidak bertemu dengan ko-ki seharian ini.. apa kau sudah bicara dengan ko-ki?
From : Shin-taan
Tadi Iv ke apartemenmu, katanya kau tidak disana. dimana kamu? daijoubu desu ka? jangan bunuh diri gara-gara ko-ki. masih ada aku. ( ^ w ^)v maaf.. aku hanya bercanda..
From : Iv pyoon
Ne-- Aii chan.. doko ni? aku tadi ke apartemenmu, tapi kamu tidak ada disana.
From : Ryouga
Aa.. sebenarnya aku khawatir.. kamu dimana?
From : Iv-pyoon
Aii-chan ( > O < ) dokooooo niii? aku khawatir.. sudah jam segini kamu belum pulang.
From : Shin-taan
Aku semakin khawatir saat iv dan ryoga membicarakanmu.. dimana? apa kau tersesat? sudah kubilang kan harusnya aku antar saja tadi..
Aku ingin menangis membaca email itu, kenapa? ko-ki tidak khawatir padaku? reno juga tidak.. tapi kalo reno sih wajar, kudengar handphonenya disita ryoga, gara-gara reno tidak menepati janjinya kepada ryoga.
"Hhaha.. seperti anak kecil saja, aku tidak boleh nangis. Hanya beberapa hari ini tidak bertemu ko-ki, yosh! Saatnya mandi.." aku emlangkahkan kakiku ke arah kamar mandi, tapi langkahku terhenti begitu melihat ko-ki terbaring di sofa apartemenku, sebelah tangannya menggenggam telepon.
"He--!? ko-ki.. ko-ki bangun.." aku menggoyang-goyangkan badan ko-ki agar dia sadar.
"Uhmm.." ko-ki mulai membuka matanya.
"Sedang apa disini?" tanyaku.
"Aii-chan.. yokatta ne~" ko-ki langsung memelukku begitu melihat aku ada di hadapannya.
"Sejak kemarin malam, saat Iv bilang kamu tidak ada di apartemenmu aku langsung kesini untuk melihat sendiri.. aku tau kamu menyembunyikan kunci pintu apartemen di bawah pot, makanya aku bisa masuk, aku khawatir sekali semalam.. aku mendatangi tempat-tempat yang suka kamu kunjungi tapi kamu tidak ada disana.. semalaman aku menelepon kantor polisi untuk mecarimu, aku terus menunggu kabarnya, tapi.."
"Sudah, aku tidak apa-apa, maaf telah membuatmu khawatir" jawbaku. Aku sennag, ternyata ko-ki mengkhawatirkanku.
"Kemana kau semalam?" tanya ko-ki melepas pelukannya lalu menatap mataku.
"A..ano, kemarin aku terjebak di toko kaset karena hujan.. tiba-tiba ryoga datang menolongku"
"Ryoga? kenapa dia tidak bilang padaku.."
"Eeh~ bukan Ryouga, tapi Ryoga dia vokalis BORN.. tadi aku di antar sampai gedung PSC, sepertinya dia ada latihan"
"Semalam tidur dirumahnya?"
"tepatnya di apartemennya, tapi.. dia tidak macam-macam kok, dia baik sekali aku di beri makan dan minum.. di beri tumpangan pulang juga.. Dia itu orang ba.." Toba-tiba ko-ki memelukku lagi.
"Jangan Lakukan itu lagi. Aku khawatir" katanya, masih memelukku. Aku senang ko-ki jadi perhatian seperti ini, tidak seperti hari-hari kemarin.
"Aa.. ko-ki.." kataku sedikit takut begitu ko-ki medorongku jatuh ke lantai, ya kalau orang luar melihat posisi kami mungkin sudah menyangka kami akan melakukan hal yang tak diinginkan, di tambah dengan penampilan yang acak-acakan, pas sudah setting unkuk melakukannya (-__- hee!? apa nih?).
"Ko-ki, a..aku harus.. harus ke .." aku makin panik begitu mata lembut ko-ki mentap mataku. (gyaaa!! author ga gak gak kuat ngebayangin hal itu terjadi BENERAN!)
Sepertinya ko-ki tidak peduli denganku yang sudah panik setengah mati, apa ini saatnya? tidaak!! kalau itu aku belum siap. lagian kami belum nikah. Tiba-tiba wajahnya mendekat ke wajahku, aku bisa merasakan nafasnya.
"Aii.."
"A..a..apa?"
"Kamu.."
"ke.. kenapa?"
"kamu bau.." ledek ko-ki, lalu dia membantuku bangun dari lantai. Huuh! tak kusangka, aku sudah panik begitu ternyata cuma untuk menggodaku saja.
"Haa--!? kau itu membuatku takut saja"
"Takut? masih belum siap?" tanyanya sambil memelukku dari belakang.
"A..apaan sih, kenapa tiba-tiba perhatian begini? kukira sudah tidak peduli padaku"
"heee!?"
"Kemarin kemarin kenapa mendiamkanku? seperti mejauhiku.. ko-ki juga sudah berbohong padaku"
"Bohong? yang mana?" tanyanya bingung.
"Jangn pura-pura tidak tau, waktu kau bilang latihan tapi sebenarnya tidak latihan kan? aku sudah tanya sama shin kemarin"
"Oh itu, maaf~ aku hanya tidak ingin kau tau.."
"Soal apa? punya pacar baru?"
"Heeyy! pacarku hanyalah kamu seorang" (gyaaa!! sungguh GAK KUAT *author berdisko lebay*)
"Terus?"
"Ini.." ko-ki mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya.
"Sebenarnya ingin aku berikan pada saat aku berbohong itu, tapi karena aku sibuk dengan Iv yang memintaku menemaninya nge gym, aku suruh reno yang membelikan cincin itu.. tapi.. reno salah membelinya, sementara barang yang sudah di beli tidak bisa ditukar.. makanya aku mati-matian cari kerja sampingan yang gajinya lumayan,.." jelas ko-ki.
"Eh!? tidak udah sampai begitu.. kenapa harus kerja part time?"
"Aku ingin cincin itu dibeli benar-benar dari hasil keringatku.. persis seperti seorang suami kan?" goda ko-ki.
"Masa!? aku rasa belum.." jawabku sambil tertawa.
"Hee--!? aku sudah mati-matian begitu.."
"Kurasa belum persis seperti seorang suami, tapi.. terima kasih ko-ki" kataku sambil mengecup manis pipinya yang chubby itu.
~OWARI ~
GYAAAA!! GAK GAK GAK NAHAN(??)
wokwok..
bener2 imajinasi puncak gunung(?)
sungguh aye ikut merasakan feelnya /bahbah
ko-ki~~
I heart you.. My precious KING~ and I'm your QUEEN~ XD
JUST IGNORE THIS PICT~
JUST IGNORE~
mohon perhatian..
ini hanya kepentingan/kebahagiaan author semata~


Tidak ada komentar:
Posting Komentar